Oleh: Dr. Arniwita
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jambi | Peserta FGD Akademisi dan Peneliti lembaga Riset bersama Bank Indonesia
Ketika dunia kembali diguncang konflik geopolitik, hampir semua negara merasakan dampaknya. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, memperkuat dolar Amerika Serikat, dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global. Dalam situasi seperti itu, Indonesia menghadapi tantangan yang sama: menjaga nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memilih mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Inflasi Juli 2026 juga tetap terjaga pada 2,88 persen, masih berada dalam sasaran 2,5±1 persen, sementara cadangan devisa mencapai US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor. Kebijakan ini menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama.
Pertanyaannya, apa arti kebijakan moneter tersebut bagi daerah seperti Jambi?
Bagi masyarakat, BI Rate mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi Jambi yang perekonomiannya bertumpu pada ekspor komoditas, stabilitas rupiah justru menjadi salah satu fondasi penting. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ekonomi Jambi pada Triwulan II-2026 tumbuh 4,15 persen, dengan PDRB mencapai sekitar Rp96,62 triliun. Struktur ekonominya masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (32,98 persen), diikuti oleh pertambangan (15,55 persen), perdagangan (13,92 persen), serta industri pengolahan (9,63 persen). Artinya, lebih dari 70 persen aktivitas ekonomi daerah masih dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dunia.
Di sinilah paradoks Jambi muncul. Ketika harga sawit, batu bara, atau karet naik, ekonomi daerah ikut tumbuh. Namun ketika harga dunia melemah atau perdagangan internasional terganggu, dampaknya langsung dirasakan petani, pelaku usaha, hingga penerimaan daerah. Pertumbuhan ekonomi tetap positif, tetapi ketahanannya masih bergantung pada faktor yang berada di luar kendali daerah.
Stabilitas merupakan prasyarat pertumbuhan, bukan tujuan akhir. Keputusan mempertahankan BI Rate bukan sekadar menjaga inflasi, tetapi juga menjaga kepercayaan investor, mengurangi tekanan terhadap rupiah, serta menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Bagi eksportir di Jambi, stabilitas kurs membantu menyusun kontrak perdagangan dengan lebih baik. Bagi pelaku industri, stabilitas rupiah mengurangi risiko kenaikan biaya impor mesin, pupuk, maupun bahan baku. Sementara bagi investor, stabilitas menjadi sinyal bahwa iklim usaha tetap kondusif.
Namun, benteng moneter saja tidak cukup. Tantangan terbesar Jambi justru berada pada struktur ekonominya. Kontribusi industri pengolahan masih relatif kecil sehingga sebagian besar komoditas unggulan dijual dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah, lapangan kerja, dan keuntungan terbesar lebih banyak dinikmati daerah atau negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi. Selama kondisi ini belum berubah, Jambi akan terus rentan terhadap siklus harga komoditas dunia.
Agar ekonomi Jambi lebih tangguh menghadapi gejolak global, setidaknya terdapat lima agenda strategis yang perlu diprioritaskan. Pertama, mempercepat hilirisasi komoditas unggulan seperti sawit, kopi, pinang, kayu manis, dan batu bara sehingga ekspor tidak lagi didominasi bahan mentah. Kedua, memperkuat industri pengolahan berbasis sumber daya lokal melalui insentif investasi, penyediaan kawasan industri, serta pembangunan infrastruktur logistik yang lebih efisien. Ketiga, memperluas pembiayaan bagi UMKM agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri hilir, bukan hanya menjadi pelaku usaha skala kecil yang berdiri sendiri.
Keempat, mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan QRIS, BI-FAST, pemasaran digital, dan perdagangan elektronik sehingga produk-produk lokal memiliki akses pasar yang lebih luas. Kelima, memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga keuangan dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing.
Karena itu, stabilitas moneter harus dijadikan momentum untuk melakukan transformasi ekonomi. Hilirisasi sawit, kopi, pinang, kayu manis, hingga pengembangan industri berbasis mineral seperti ferro alloy perlu dipercepat agar ekspor tidak lagi didominasi bahan mentah. Pada saat yang sama, penguatan industri pengolahan, perluasan pembiayaan UMKM, digitalisasi perdagangan, dan pembangunan kawasan industri harus menjadi agenda bersama pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga keuangan.
Transformasi tersebut bukan hanya bertujuan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperbaiki kualitasnya. Ketika nilai tambah diciptakan di dalam daerah, manfaat ekonomi akan lebih banyak dinikmati masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan tumbuhnya usaha-usaha baru.
Pada akhirnya, rupiah yang stabil bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Stabilitas memberi ruang bagi daerah untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat. Bagi Jambi, kesempatan itu harus dimanfaatkan untuk keluar dari ketergantungan pada komoditas primer menuju ekonomi yang lebih beragam, bernilai tambah, dan berdaya saing. Dengan fondasi moneter yang kokoh dan transformasi ekonomi yang konsisten, Jambi tidak hanya akan mampu bertahan menghadapi gejolak global, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera.












