JAMBI.PILARDAERAH.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian serius. Meski upaya pemadaman terus dilakukan, sejumlah titik api masih bertahan di kawasan taman nasional dan taman hutan raya (tahura) yang memiliki akses sulit serta didominasi lahan gambut.
Berdasarkan hasil patroli udara yang dilakukan Gubernur Jambi Al Haris bersama Pelaksana Harian (Plh) Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Karhutla Provinsi Jambi Brigjen TNI Nyamin, terpantau empat titik api dan satu lokasi yang memasuki tahap pendinginan.
Gubernur Jambi Al Haris mengatakan, salah satu lokasi yang sebelumnya mengalami kebakaran, yakni Sungai Gelam, telah memasuki tahap pendinginan. Namun, kebakaran masih ditemukan di sejumlah kawasan lain, termasuk Taman Hutan Raya (Tahura) Rangkayo Hitam, Taman Nasional Berbak Sembilang, Rasau, dan Labuhan Pering.
“Di Sungai Gelam sudah pendinginan, tetapi masih ada titik api di wilayah tahura, di Taman Nasional Berbak Sembilang, di Rasau, dan di Labuhan Pering. Semuanya berada di kawasan taman nasional dan tahura,” kata Al Haris, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, proses pemadaman di kawasan tersebut menghadapi tantangan besar. Selain luasnya wilayah yang terbakar, akses menuju lokasi kebakaran juga sulit dijangkau oleh tim gabungan di lapangan.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Api yang menyebar ke berbagai titik juga menyulitkan petugas dalam mengendalikan kebakaran, meskipun bantuan pemadaman dari udara melalui metode water bombing telah dikerahkan.
“Walaupun kita menggunakan water bombing, tetap sulit karena apinya meluas dan menyebar. Titik-titik apinya banyak, sehingga tidak mudah memadamkan api dari udara. Apalagi, kawasan tersebut termasuk lahan gambut,” ujar Al Haris.
Kebakaran di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena bara api berpotensi bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat api sulit dipadamkan secara menyeluruh dan berisiko kembali muncul ketika kondisi lahan masih kering.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, Pemerintah Provinsi Jambi bersama Satgas Karhutla terus mengoptimalkan berbagai langkah penanganan. Upaya tersebut meliputi pemadaman melalui jalur udara, pembuatan sekat di lokasi kebakaran, serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Al Haris menegaskan, seluruh upaya tersebut dilakukan secara maksimal agar kebakaran segera terkendali. Pemerintah daerah juga berharap hujan dengan intensitas lebih tinggi dapat mengguyur wilayah yang terdampak karhutla sehingga membantu proses pemadaman, terutama di kawasan gambut.
“Langkah kita tetap maksimal. Kita terus melakukan water bombing dan berharap terjadi hujan. Sekat juga sudah dilakukan di lokasi kebakaran agar api tidak meluas ke mana-mana. Intinya, kita berharap segera terjadi hujan,” katanya.
Tiga Ton Garam Disebar, OMC Sasar Wilayah Rawan Karhutla
Sebelumnya, Satgas Udara Karhutla Provinsi Jambi telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca dengan menyebarkan sekitar tiga ton garam ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan sejak Jumat malam hingga Sabtu.
Plh Dansatgas Karhutla Provinsi Jambi Brigjen TNI Nyamin mengatakan, operasi tersebut menyasar sejumlah wilayah yang dinilai membutuhkan tambahan curah hujan, di antaranya Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Merangin, serta kawasan perbatasan Kabupaten Muaro Jambi.
Penyemaian awan kemudian kembali difokuskan ke kawasan yang masih memiliki titik api, termasuk wilayah taman nasional dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
“Untuk hari ini, sasarannya di wilayah taman nasional yang ada titik api, kemudian ke Tanjung Jabung Barat,” kata Nyamin.
Menurut Nyamin, potensi awan yang dapat dimanfaatkan untuk operasi modifikasi cuaca berada di kawasan pesisir, terutama wilayah yang berdekatan dengan taman nasional. Melalui penyemaian awan tersebut, Satgas berharap hujan yang turun memiliki intensitas lebih tinggi sehingga dapat membantu memadamkan kebakaran.
Pasalnya, hujan yang sempat mengguyur sejumlah wilayah di Jambi belum sepenuhnya mampu mengatasi kebakaran. Curah hujan dengan intensitas sedang dinilai belum cukup untuk memadamkan api secara menyeluruh, terutama di kawasan gambut yang masih menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
“Memang sudah terjadi hujan, tetapi hujan dengan intensitas sedang masih belum mampu memadamkan api secara total. Mudah-mudahan melalui operasi modifikasi cuaca ini, hujan yang turun bisa lebih lebat,” ujarnya.
Luas Kebakaran Capai 8.284 Hektare
Di tengah berbagai upaya penanganan tersebut, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi, total luas lahan yang terbakar sejak Januari hingga saat ini mencapai 8.284 hektare.
Sejumlah lokasi yang masih menjadi perhatian petugas antara lain kawasan perbatasan Taman Nasional Sembilang dan Taman Nasional Berbak, wilayah Rantau Rasau, kawasan Tahura Rangkayo Hitam, serta Kecamatan Sungai Gelam.
Besarnya luasan lahan yang terbakar, sulitnya akses menuju lokasi, serta karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla membutuhkan upaya berkelanjutan dan koordinasi lintas sektor.
Pemerintah Provinsi Jambi bersama Satgas Karhutla pun terus mengoptimalkan pemadaman di darat dan udara, mencegah api meluas melalui pembuatan sekat, serta mengupayakan tambahan curah hujan melalui operasi modifikasi cuaca.
Dengan masih bertahannya sejumlah titik api, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada pengerahan personel dan peralatan pemadam, tetapi juga pada kondisi cuaca dan kemampuan menjangkau kawasan yang terbakar.
Pemerintah berharap hujan dengan intensitas memadai segera turun di wilayah rawan kebakaran sehingga dapat membantu memadamkan bara api, menekan perluasan kebakaran, dan mengurangi dampak kabut asap yang ditimbulkan.









