JAMBI.PILARDAERAH.COM – Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Jambi kembali melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Setelah sempat terkendala jarak pandang atau visibility, tim udara akhirnya berhasil menyebarkan sekitar tiga ton garam ke awan yang berpotensi menurunkan hujan.
Operasi modifikasi cuaca tersebut dilaksanakan sejak Jumat malam hingga Sabtu siang. Penyemaian garam dilakukan di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan awan hujan, terutama kawasan yang masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Pelaksana Harian (Plh) Komandan Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Brigjen TNI Nyamin, mengatakan operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sejak Jumat malam dengan menyasar beberapa wilayah, di antaranya Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Merangin, serta kawasan perbatasan Kabupaten Muaro Jambi.
Menurutnya, penyemaian awan pada Sabtu kembali difokuskan ke wilayah yang masih memiliki titik api, termasuk kawasan taman nasional dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas lebih tinggi sehingga membantu proses pemadaman kebakaran.
“Untuk hari ini, sasarannya di wilayah taman nasional yang ada titik api, kemudian ke Tanjung Jabung Barat,” kata Nyamin, Sabtu (10/10/2026).
Ia menjelaskan, potensi awan yang dapat dimanfaatkan untuk operasi modifikasi cuaca berada di kawasan pesisir, terutama wilayah yang berdekatan dengan taman nasional. Satgas berharap penyemaian awan tersebut dapat menghasilkan hujan yang lebih lebat dibandingkan hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir.
Pasalnya, hujan yang sempat mengguyur sejumlah wilayah di Jambi belum sepenuhnya mampu memadamkan kebakaran. Intensitas hujan yang masih tergolong sedang dinilai belum cukup untuk mengatasi kebakaran di seluruh lokasi, terutama pada kawasan lahan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
“Memang sudah terjadi hujan, tetapi hujan dengan intensitas sedang masih belum mampu memadamkan api secara total. Mudah-mudahan melalui operasi modifikasi cuaca ini, hujan yang turun bisa lebih lebat,” ujarnya.
Hingga saat ini, sejumlah titik kebakaran masih menjadi perhatian Satgas Karhutla Jambi. Lokasi tersebut antara lain kawasan perbatasan Taman Nasional Sembilang dan Taman Nasional Berbak, wilayah Rantau Rasau, kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Rangkayo Hitam, serta Kecamatan Sungai Gelam.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Jambi masih menghadapi tantangan, meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Selain pemadaman langsung oleh petugas di lapangan, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya untuk membantu menambah curah hujan dan mengurangi risiko meluasnya kebakaran.
Berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi, total luas lahan yang terbakar sejak Januari hingga saat ini mencapai 8.284 hektare. Luas tersebut menjadi gambaran besarnya dampak kebakaran hutan dan lahan yang harus ditangani di tengah kondisi cuaca yang belum sepenuhnya mendukung pemadaman.
Satgas Karhutla Jambi pun terus mengoptimalkan berbagai upaya penanganan, mulai dari pemadaman di titik api, pemantauan wilayah rawan, hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Keberhasilan upaya tersebut diharapkan dapat menekan luasan kebakaran sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Dengan penyemaian sekitar tiga ton garam ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan, Satgas berharap curah hujan meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Namun, penanganan di lapangan tetap menjadi prioritas agar api yang masih menyala, khususnya di kawasan taman nasional dan lahan gambut, dapat segera dipadamkan.






