Gagas Transintegrasi Ilmu Menuju Peradaban Dunia Baru, Guru Besar UIN Jambi Prof. Su’aidi Asyari Launching Tiga Karya Monumental

JAMBI.PILARDAERAH.COM — Guru Besar Pemikiran Politik Islam Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. Su’aidi Asyari, MA, Ph.D meluncurkan secara resmi tiga karya monumentalnya yang dilaunching di kampus UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Sabtu (3/10/2026).

Maha karya yang merupakan catatan perjalanan akademik mantan Rektor UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi tersebut berjudul Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post Modernisme, Orientalisme Sebelum Edward Said dan Orientalisme Sesudah Edward Said.

Peluncuran buku tersebut menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan kembali, hubungan antardisiplin ilmu serta arah pengembangan pendidikan tinggi, dalam menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat dan tantangan peradaban dunia.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dapil Jambi Drs. Hasan Basri Agus, MM (HBA), dalam sambutannya mengatakan bahwa Jambi memiliki sejarah dan potensi intelektual yang besar.

Mantan Gubernur Jambi tersebut bahkan menyebut sejarah perkembangan agama Buddha yang memiliki keterkaitan dengan Jambi. Oleh karena itu, menurutnya, budaya menulis dan pengembangan ilmu pengetahuan perlu terus didorong, khususnya bagi generasi muda Jambi.

“Sewaktu menjadi Gubernur dulu saya mendorong agar bagaimana anak-anak Jambi ini menulis melalui anggaran di perpustakaan wilayah, begitupun juga sekarang saya juga terus mendorong,” katanya.

Lebih lanjut, Ketua LAM Provinsi Jambi itu menekankan, persoalan masyarakat tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang keilmuan saja. Kompleksitas persoalan publik membutuhkan pendekatan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Ia menambahkan, kebijakan negara juga tidak semata-mata dibangun melalui proses politik, tetapi juga membutuhkan dukungan data dan keilmuan. Menurut HBA, pendidikan Islam juga harus mengambil bagian dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak berada di luar arus perkembangan keilmuan.

“Kebijakan negara tidak dibangun hanya melalui politik, tetapi juga melalui data dan keilmuan. Menurut saya pendidikan Islam tidak boleh hanya berada dipinggir perkembangan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Diakhir penyampaian HBA yang didaulat menjadi Keynote Speaker pada acara ini, dirinya menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku karya Prof. Su’aidi Asyari. Ia berharap buku tersebut tidak hanya menjadi konsumsi kalangan akademisi, tetapi juga dapat dibaca oleh masyarakat luas.

“Saya mengucapkan selamat atas lahirnya buku Prof. Su’aidi Asyari, saya berharap buku ini tidak hanya dibaca oleh kalangan akademisi, tetapi juga dibaca masyarakat secara umum,” katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saifuddin Jahar, MA, Ph.D, menyampaikan apresiasi atas terbitnya tiga karya Prof. Dr. Su’aidi Asyari, MA, Ph.D.

Dirinya mengatakan bahwasanya selama berdiskusi baik saat menjabat sebagai Rektor maupun setelahnya, dia mengikuti kegelisahan intelektual Prof. Su’aidi, termasuk dalam pembicaraan mengenai perkembangan UIN hingga keberadaan Fakultas Kedokteran di UIN Jambi.

“Saya mengikuti terus apa yang menjadi kegelisahan Prof. Su’aidi, baik saat ngobrol bersama mengenai UIN, hingga Fakultas kedokteran di UIN Jambi yang sekarang sudah ada,” katanya.

Kemudian, pimpinan Pondok Pesantren Darul Arifin yang juga ulama Jambi Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed berharap gagasan mengenai transintegrasi ilmu yang dituangkan Prof. Su’aidi dapat terus dikembangkan oleh generasi berikutnya.

“Maka kita harapkan buku transintegrasi ini ada kelanjutannya, dengan ada bapak Su’aidi lain di masa selanjutnya,” ujarnya.

Menurutnya gagasan yang dikemukakan Prof. Suaidi sejalan dengan kehidupan ulama-ulama terdahulu yang menurutnya tidak mengenal adanya dikotomi ilmu pengetahuan, khususnya antara ilmu pengetahuan umum dan keislaman.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Su’aidi Asyari, MA, Ph.D menjelaskan bahwa gagasan transintegrasi ilmu dalam bukunya berangkat dari kegelisahan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan sistem pendidikan yang menurutnya selama ini masih cenderung terkotak-kotak.

Su’aidi menilai keberadaan berbagai aspek pendukung pada Perguruan Tinggi, khususnya Universitas IsIam, yang unggul belum otomatis menghasilkan ilmu yang memberikan dampak luas bagi peradaban.

“Kalau semuanya unggul, lalu bagaimana kita menghasilkan ilmu yang benar-benar berdampak pada peradaban,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa ukuran kebesaran sebuah universitas tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah profesor, kemegahan gedung maupun banyaknya kerja sama.

“Universitas tidak menjadi besar dari sekedar banyaknya Profesor, gedung, atau kerjasama,” tegasnya.

Ia kemudian mempertanyakan sejauh mana berbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi benar-benar berinteraksi dan menghasilkan pengetahuan secara bersama.

“Kita mempunyai beragam fakultas syari’ah, adab, Ushuluddin, kedokteran, ekonomi, teknologi, tapi apakah mereka pernah membahas suatu hal secara bersama-sama, jangan-jangan kita baru mencapai co-eksistensi ilmu belum transintegrasi ilmu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suaidi berpendapat, bahwa umat muslim dewasa ini kerap terjebak dalam sejarah keemasan Islam masa lalu. Menurutnya, menghormati sejarah tidak berarti menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang berhenti dan tidak berkembang.

“Menghormati sejarah bukan berarti membekukan sejarah sehingga tidak bergerak,” kata Su’aidi.

Menurut Su’aidi, dikotomi ilmu yang telah terjadi selama ini semakin mengeras dan diperlukan keberanian untuk melihat kembali struktur pendidikan yang ada.

“Jika dikotomi ilmu selama ini telah menjadi mengeras, kita harus berani memeriksa kembali arsitektur pendidikan kita,” ujarnya.

Su’aidi menegaskan bahwa buku tersebut bukan merupakan akhir dari pencarian akademiknya. Sebaliknya, buku itu menjadi bagian dari perjalanan intelektual untuk terus mencari jawaban atas berbagai persoalan keilmuan.

“Buku ini telah selesai ditulis, tapi pertanyaannya belum selesai. Buku ini perjalanan saya mengikuti pertanyaan demi pertanyaan yang saya sampaikan tadi,” tandasnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan Giant Book dari pihak penerbit kepada Prof. Dr. Su’aidi Asyari selaku penulis. Penyerahan tersebut disaksikan oleh Drs.Hasan Basri Agus, MM, Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, Ketua MUI Provinsi Jambi Dr. Umar Yusuf, Prof. Iskandar, serta sejumlah tamu undangan.

Peluncuran buku ini sekaligus menjadi momentum untuk memperluas diskusi mengenai masa depan pendidikan, integrasi keilmuan, dan kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat serta membangun peradaban.