JAMBI.PILARDAERAH.COM – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Jambi. Akibatnya berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Dua pesawat dari Jakarta gagal mendarat akibat jarak pandang di sekitar bandara mengalami penurunan signifikan.
“Kedua pesawat tersebut terpaksa melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke bandara lain demi alasan keselamatan penerbangan pada Minggu (23/8/2026) kemarin,” ungkap General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, kondisi jarak pandang yang menurun menjadi salah satu faktor utama pesawat tidak dapat melakukan pendaratan di Bandara Sultan Thaha Jambi.
“Dua penerbangan yang terdampak masing-masing merupakan Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6804 dan Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU 842,” terangnya.
Dia menambahkan, pesawat Batik Air ID 6804 melayani rute Jakarta-Jambi menggunakan Airbus A320. Pesawat tersebut berangkat dari Jakarta sekitar pukul 10.00 WIB dan dijadwalkan tiba di Bandara Sultan Thaha Jambi sekitar pukul 10.40 WIB sebelum melanjutkan penerbangan menuju Batam.
Namun, katanya, karena kondisi jarak pandang yang tidak memungkinkan, pesawat tersebut tidak dapat mendarat di Jambi. Pesawat kemudian mengalihkan pendaratan ke Bandara Hang Nadim, Batam.
Sementara itu, pesawat Super Air Jet IU 842 dari Jakarta juga mengalami kondisi serupa. Pesawat Airbus A320 tersebut berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11.25 WIB dan dijadwalkan tiba di Jambi sekitar pukul 11.31 WIB.
“Pendaratan pesawat Super Air Jet akhirnya dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
Ardon menjelaskan, penurunan jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Thaha Jambi terjadi cukup signifikan sejak Minggu pagi,” imbuh Marbun.
Berdasarkan pemantauan, pada pukul 09.30 WIB jarak pandang masih berada di angka sekitar 5.000 meter. Namun, satu jam kemudian atau sekitar pukul 10.30 WIB, jarak pandang turun drastis menjadi sekitar 1.000 meter.
“Kondisi ini bertahan sampai sekitar pukul 11.30 WIB,” ujar Ardon lagi.
Menurutnya, kondisi jarak pandang akibat kabut asap sangat bergantung terhadap arah dan kecepatan angin. Karena itu, pihak bandara belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut akan segera membaik atau justru kembali memburuk.
“Untuk kondisi visibility ke depan kita belum bisa memastikan apakah akan membaik. Kita tunggu arah angin, bisa saja semakin memburuk atau membaik,” katanya.
Pihak Bandara Sultan Thaha Jambi terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan jarak pandang untuk memastikan keselamatan operasional penerbangan.
Ardon berharap kondisi jarak pandang di sekitar bandara segera membaik sehingga seluruh aktivitas penerbangan dapat kembali berjalan normal.
“Kita doakan sama-sama semoga jarak pandang kedepannya semakin membaik,” ujarnya.
Pada Minggu (23/8/2026), Bandara Sultan Thaha Jambi mencatat sebanyak 21 penerbangan dijadwalkan melalui Bandara Sultan Thaha Jambi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 penerbangan dijadwalkan tiba di Jambi. Rinciannya, sembilan penerbangan berasal dari Jakarta, satu penerbangan dari Medan dan satu penerbangan dari Yogyakarta.
Sementara itu, terdapat 10 penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Sultan Thaha Jambi. Sebanyak sembilan penerbangan memiliki tujuan Jakarta dan satu penerbangan menuju Yogyakarta.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap ini menjadi perhatian karena jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam memastikan keselamatan proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.
Pihak bandara mengimbau calon penumpang untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing terkait jadwal penerbangan, terutama apabila kondisi jarak pandang kembali mengalami penurunan.












