JAMBI.PILARDAERAH.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kawasan konservasi di Sumatera. Kobaran api melanda kawasan Taman Nasional Berbak di Provinsi Jambi dan Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan.
Bahkan, api dari wilayah Sembilang dilaporkan telah merangsek hingga mendekati perbatasan Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
Kondisi tersebut membuat Satgas Penanganan Karhutla Provinsi Jambi meningkatkan upaya pemadaman. Empat unit helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau titik api yang sulit ditembus melalui jalur darat karena berada di kawasan hutan belantara.
Komandan Korem 042/Garuda Putih Jambi sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Dansatgas Penanganan Karhutla Jambi, Brigjen TNI Nyamin, mengatakan tim gabungan telah melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan penyebaran api, termasuk mengerahkan alat berat ke lokasi kebakaran.
Menurutnya, alat berat tersebut digunakan untuk membuat sekat bakar guna memperlambat laju api. Namun, proses penanganan tidak mudah karena kondisi medan yang sulit dan belum tersedianya akses jalan menuju lokasi kebakaran.
“Upaya yang sudah dilakukan, tim sudah mengirimkan alat berat ke sana untuk melakukan sekat bakar. Saat ini sudah masuk di ekor apinya dan belum menembus kepala api,” ujar Nyamin, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, tim darat membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai sumber api. Kawasan yang terbakar merupakan hutan dengan akses yang sangat terbatas sehingga pemadaman dari darat menghadapi kendala serius.
“Alasannya karena akses jalan tidak ada, masih hutan belantara, signal Hp juga tidak ada sehingga memerlukan waktu untuk tembus yang tidak singkat,” katanya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, operasi udara terus dilakukan. Sejak sebelumnya, empat helikopter water bombing telah dikerahkan untuk menjatuhkan air langsung ke titik-titik api yang tidak dapat dijangkau personel di darat.
“Dari kemarin water bombing sudah dikerahkan. Ada empat unit water bombing sudah dikerahkan lantaran tidak bisa dilalui tim darat,” ungkap Nyamin.
Sementara itu, kondisi karhutla di kawasan Taman Nasional Berbak Jambi masih terus menjadi perhatian. Satgas menyatakan penanganan dilakukan secara maksimal dengan mengerahkan seluruh unsur yang terlibat, baik melalui operasi udara maupun pemadaman dan penyekatan di darat.
Kebakaran di kawasan taman nasional menjadi ancaman serius karena tidak hanya berpotensi meluas, tetapi juga dapat merusak ekosistem dan habitat satwa. Asap yang ditimbulkan juga berisiko mengganggu aktivitas masyarakat apabila kualitas udara terus memburuk.
Satgas Karhutla Jambi memastikan operasi pemadaman akan terus dilakukan untuk menekan penyebaran api. Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk mencegah kobaran api merembet lebih jauh ke kawasan hutan lainnya.
Di sisi lain, penanganan karhutla di Jambi juga dibarengi dengan proses hukum terhadap kasus-kasus pembakaran hutan dan lahan. Hingga kini, tercatat sebanyak 72 kasus karhutla ditangani aparat penegak hukum di wilayah Provinsi Jambi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 59 kasus masih berada dalam tahap penyelidikan. Sementara 13 kasus lainnya telah naik ke tahap penyidikan dengan total 14 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Dari 72 kasus karhutla yang terjadi di Provinsi Jambi, ada 59 kasus penyelidikan dan 13 kasus penyidikan dengan 14 tersangka,” tegas Brigjen TNI Nyamin.
Satgas mengingatkan seluruh pihak agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terlebih di tengah kondisi cuaca yang meningkatkan potensi kebakaran.
Pencegahan dinilai menjadi langkah penting karena pemadaman di kawasan hutan, khususnya lahan yang sulit diakses, membutuhkan waktu, personel, peralatan dan dukungan operasi udara dalam jumlah besar.






