JAMBI.PILARDAERAH.COM – Ekonom Usman Ermulan mendorong pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pengembangan energi berbasis kelapa sawit sebagai strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM).
Menurut Usman, situasi geopolitik global yang memanas, terutama konflik di Timur Tengah, berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi ini semakin diperparah dengan meningkatnya harga minyak global yang kini berada di kisaran 78 hingga 80 dolar AS per barel, melampaui asumsi makro APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
“Jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi energi dunia terganggu, Indonesia akan sangat terdampak karena masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Ini tentu akan membebani APBN melalui peningkatan subsidi energi,” ujar Usman, Jumat (6/3/2026).
Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengurangi risiko tersebut dengan memaksimalkan potensi kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif.
“Kita adalah produsen sawit terbesar di dunia. Dengan sumber daya sebesar itu, sangat rasional jika Indonesia memperkuat produksi energi berbasis sawit agar tidak terlalu bergantung pada energi impor,” katanya.
Berdasarkan data terbaru, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada periode 2024–2025 mencapai sekitar 16 hingga 17,3 juta hektare, dengan total produksi sekitar 50 juta ton minyak sawit per tahun. Mayoritas perkebunan tersebut tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Menurut Usman, pengembangan energi dari sawit tidak hanya terbatas pada biodiesel, tetapi juga dapat menghasilkan berbagai jenis green fuel seperti green diesel, green gasoline, dan green avtur yang kualitasnya setara bahkan lebih baik dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Selain meningkatkan ketahanan energi nasional, kebijakan ini juga dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang luas.
“Industri sawit selama ini menjadi tulang punggung ekonomi bagi jutaan masyarakat, mulai dari petani, pekerja perkebunan, hingga industri pengolahan. Jika energi berbasis sawit dikembangkan lebih serius, nilai tambah ekonomi yang dihasilkan akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Tercatat, sektor perkebunan sawit dan industri turunannya telah memberikan kontribusi sekitar USD27,76 miliar atau setara Rp440 triliun terhadap perekonomian nasional.
Usman juga mendorong pemerintah daerah yang memiliki potensi perkebunan sawit untuk aktif bekerja sama dengan sektor swasta dan perguruan tinggi dalam mengembangkan teknologi pengolahan energi berbasis sawit.
Ia mencontohkan Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang telah memproduksi biosolar sebagai bagian dari pengembangan energi baru terbarukan.
“Jika sebuah kabupaten saja mampu melakukannya, tentu provinsi dengan potensi sawit besar seperti Jambi juga bisa mengembangkan energi berbasis sawit secara lebih serius,” katanya.
Menurutnya, langkah cepat dan terukur perlu segera diambil agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah sawit, tetapi juga menjadi pusat produksi energi hijau berbasis sawit di dunia.
“Energi sawit bukan sekadar solusi jangka pendek menghadapi gejolak harga minyak dunia, tetapi juga investasi jangka panjang menuju kemandirian energi nasional,” tutup Usman.






