Algoritma Ubah “Perang” Media, Media Nasional Dinilai Mulai Kehilangan Relevansi

YOGYAKARTA.PILARDAERAH.COM – Perubahan pola konsumsi informasi di era digital membuat peta persaingan industri media semakin bergeser.

Media nasional yang sebelumnya menjadi rujukan utama masyarakat kini menghadapi tantangan besar dari media lokal dan konten kreator yang dinilai lebih mampu menjangkau audiens secara personal.

Hal tersebut disampaikan Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rahmadin Ismail, dalam kegiatan “Membangun Bisnis Media Lewat Relevansi Audiens” yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jambi di Hotel Melia, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi menjadi salah satu faktor yang membuat media nasional tidak lagi selalu menjadi pilihan utama. Audiens kini cenderung mendapatkan informasi melalui media sosial dengan pola konsumsi yang lebih personal dan sesuai dengan minat masing-masing.

“Media nasional telah ditinggal. Saat ini terjadi perubahan pola konsumsi konten yang lebih mengarah pada personalisasi,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, perkembangan algoritma media sosial justru membuka peluang yang sangat besar bagi media lokal.

Konten yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat di suatu daerah berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar karena algoritma semakin mampu membaca minat dan perilaku audiens.

Karena itu, media lokal tidak perlu merasa harus bersaing dengan media nasional dalam hal jumlah jaringan, jumlah wartawan maupun skala bisnis. Justru, kekuatan utama media lokal dapat dibangun melalui keunikan konten dan kedekatan dengan audiens.

“Tidak perlu menjadi media nomor satu atau memiliki banyak jaringan. Yang penting menjadi media yang unik dan memiliki relevansi dengan audiens,” katanya.

Rahmadin menjelaskan, peta pertarungan industri media saat ini juga semakin bergeser ke media sosial dan konten kreator. Website media tetap penting, tetapi distribusi informasi melalui platform media sosial menjadi bagian yang tidak bisa lagi diabaikan.

Dalam pandanganya, media harus mampu memahami bagaimana algoritma bekerja dan menjadikan konten sebagai kekuatan utama. Dalam konteks media lokal, konten yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat justru memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan dan dikonsumsi audiens.

“Media sosial sekarang lebih fokus diutamakan daripada website. Algoritma juga semakin berbasis pada konten lokal,” jelas Madhin dihadapan puluhan media yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (Forweb) Provinsi Jambi

Ia mendorong para pelaku media di daerah untuk tidak minder dengan keterbatasan wilayah. Sebaliknya, isu lokal harus dijadikan kekuatan dan digali secara serius. Sebab, sesuatu yang awalnya dianggap kecil di daerah bisa berkembang menjadi perhatian nasional, bahkan internasional.

“Bagi teman-teman seharusnya lebih bersemangat untuk fokus kepada hal-hal yang sifatnya lokal. Semakin lokal, semakin bagus,” tegas Rahmadin.

Menurutnya lagi, kuncinya adalah kemampuan jurnalis dan media dalam menemukan isu lokal yang menarik, kemudian mengolahnya secara mendalam sehingga memiliki nilai berita yang lebih luas.

Ia mencontohkan, berbagai persoalan masyarakat, budaya, tradisi, maupun fenomena unik di daerah sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi isu nasional apabila dikemas dengan baik.

“Caranya, gali isu-isu lokal yang menarik sehingga bisa menjadi isu nasional. Hal-hal kecil yang menarik dan bisa digarap dengan baik bisa menjadi isu nasional,” katanya.

Rahmadin mengingatkan agar media tidak meremehkan isu yang terlihat sederhana. Bisa saja di balik sebuah peristiwa lokal terdapat elemen unik, human interest, budaya, maupun persoalan sosial yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.

“Jangan meremehkan. Siapa tahu itu ada elemen yang menarik sehingga bisa meledak menjadi isu nasional,” tuturnya.

Untuk menemukan isu-isu tersebut, lanjut Rahmadin, media perlu memperkuat hubungan dengan masyarakat. Jurnalis tidak cukup hanya menunggu informasi datang, tetapi harus aktif turun ke lapangan, membangun komunikasi dan memperluas jaringan.

“Bisa saja diambil dari inspirasi budaya di masyarakat lokal. Intinya harus banyak menggali, rajin-rajin silaturahmi, diskusi dan temukan sesuatu yang menarik,” imbunya.

Dirinya menilai, kekuatan media lokal pada akhirnya bukan sekadar persoalan wilayah pemberitaan, melainkan kemampuan memahami masyarakat dan menemukan cerita yang tidak dimiliki media lain.

Jika dikelola dengan tepat, isu lokal tersebut bukan hanya mampu membangun engagement dengan audiens di daerah, tetapi juga berpotensi menembus perhatian nasional hingga internasional.

Karena itu, di tengah persaingan industri media yang semakin ketat, Rahmadin mendorong media daerah untuk memperbanyak konten lokal yang berkualitas, unik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Di era algoritma, tutupnya, menjadi semakin lokal justru dapat menjadi jalan untuk menembus audiens yang lebih luas.