Atlet Dayung Jambi Ali Mardiansyah Sumbang Perak Asian Games 2026, Bidik Olimpiade Los Angeles

JAMBI.PILARDAERAH.COM – Prestasi membanggakan ditorehkan atlet dayung asal Jambi, Letda M. Ali Mardiansyah, di ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Jepang. Ali sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga dayung nomor Lightweight Men’s Double Sculls.

Ali yang berpasangan dengan Rafiq Wijdan Yasir finis di posisi kedua setelah melewati persaingan ketat dengan sejumlah pasangan dari negara lain. Medali tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa atlet dayung Indonesia mampu bersaing di level olahraga Asia.

Kepulangan Ali ke tanah kelahirannya mendapat sambutan hangat. Setibanya di Bandara Sultan Thaha Jambi, Ali disambut Wakil Ketua KONI Provinsi Jambi Prof. Dr. Sukendro bersama jajaran pengurus dan staf KONI Provinsi Jambi.

Turut hadir Ketua Umum PODSI Provinsi Jambi Raden Wawan Setiawan beserta jajaran pengurus cabang olahraga dayung. Penyambutan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan Ali yang telah membawa nama Indonesia sekaligus mengharumkan Provinsi Jambi di pentas olahraga internasional.

Ali mengaku memiliki pengalaman yang sangat berkesan selama mengikuti Asian Games 2026 di Jepang. Ia menilai pelayanan tuan rumah dan panitia memberikan kenyamanan bagi seluruh atlet maupun kontingen dari berbagai negara.

“Pelaksanaan Asian Games di Jepang sangat antusias, baik dari pihak tuan rumah maupun panitia. Tamu yang datang ke Jepang sangat dihormati. Kita di sana sangat nyaman dan difasilitasi semuanya,” ujar Ali, Minggu (26/9/2026).

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Ali adalah tempat penginapan kontingen yang menggunakan kapal pesiar. Menariknya, banyak pekerja di kapal tersebut berasal dari Indonesia, mulai dari awak kapal hingga pekerja restoran.

“Selama di kapal pesiar, kebanyakan awak kapalnya, orang yang memasak dan di restoran banyak orang Indonesia. Jadi kita merasa seperti pulang ke kampung sendiri,” katanya.

Perjalanan Ali dan Rafiq menuju medali perak tidak berlangsung mudah. Jadwal pertandingan harus mengalami perubahan akibat prakiraan cuaca buruk dan ancaman badai yang melanda kawasan penyelenggaraan.

Pertandingan yang semula dijadwalkan berlangsung pada 21 September akhirnya ditunda. Semifinal kemudian digelar pada 23 September, sementara partai final berlangsung pada 24 September.

Perubahan jadwal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Ali yang turun di kelas ringan. Ia harus menjaga berat badan lebih lama menjelang proses penimbangan sebelum pertandingan.

“Biasanya kalau sesuai jadwal kelas ringan lomba sekitar jam sepuluh pagi. Karena jadwal berubah, kita harus menahan berat badan lebih lama. Timbang berat badan baru sekitar jam dua siang, jadi dari pagi sampai siang kita tahan makan,” ujarnya.

Bagi Ali, situasi tersebut menjadi ujian kesabaran sekaligus mental. Namun, perjuangan panjang itu akhirnya terbayar dengan keberhasilan membawa pulang medali perak.

“Alhamdulillah, kesabaran itu membuahkan hasil. Sesuatu yang kita laksanakan dengan tekun dan ikhlas, alhamdulillah semuanya dibalas Allah SWT,” katanya.

Ali mengatakan keberhasilan meraih medali di Jepang tidak diperoleh secara instan. Tim dayung Indonesia sebelumnya telah menjadikan sejumlah kejuaraan internasional sebagai tolok ukur untuk mengukur kemampuan sekaligus membaca kekuatan lawan.

Menurut Ali, persaingan di nomor kelas ringan sangat ketat. Sejumlah negara yang menjadi lawan Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam kejuaraan dunia maupun berbagai kompetisi internasional di Eropa.

Keterbatasan kesempatan melakukan try out ke Eropa tidak membuat tim Indonesia kehilangan motivasi. Kondisi tersebut justru dijadikan bahan evaluasi untuk memantau kekuatan calon lawan.

“Kita tidak berkecil hati. Kita jadikan itu motivasi lebih untuk memantau lawan-lawan kita,” ujarnya.

Ali menilai pencapaian di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menunjukkan atlet Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing dengan negara-negara yang memiliki pengalaman kompetisi internasional lebih panjang.

“Ini suatu kebanggaan bagi kami. Bukan berarti kita tidak bisa bersaing. Mungkin kita masih terbentur anggaran ataupun dukungan,” katanya.

Medali perak Asian Games 2026 tidak membuat Ali ingin berhenti. Ia mengungkapkan dirinya kini dipersiapkan untuk mengikuti tahapan kualifikasi menuju Olimpiade Los Angeles.

“Target ke depan, khususnya saya, dipersiapkan untuk mengikuti prakualifikasi Olimpiade di Los Angeles. Setelah ini kami akan kembali TC ke Pelatnas untuk memperkuat tim dayung Indonesia,” ungkap Ali.

Target tersebut menjadi tantangan baru bagi Ali sekaligus membuka peluang bagi atlet asal Jambi untuk kembali tampil di panggung olahraga dunia.

Wakil Ketua KONI Provinsi Jambi Prof. Dr. Sukendro menyampaikan rasa bangga atas prestasi yang diraih Ali. Menurutnya, medali perak Asian Games menjadi salah satu gambaran bahwa pembinaan olahraga dayung di Provinsi Jambi berjalan secara positif.

“Tentunya kita merasa bangga. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu barometer kita untuk persiapan terutama Pra-PON 2027 dan PON 2028,” kata Sukendro.

Ia berharap keberhasilan Ali dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi kontingen Jambi pada ajang olahraga nasional mendatang.

Jika sebelumnya cabang olahraga dayung Jambi mampu menyumbangkan dua medali emas, KONI berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga mampu menghasilkan tiga hingga empat medali emas pada PON berikutnya.

“Ini salah satu gambaran pembinaan dayung di Provinsi Jambi berjalan dan ini bisa dipertahankan untuk selanjutnya,” tegas Sukendro.

Ketua Umum PODSI Provinsi Jambi Raden Wawan Setiawan juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap atlet-atlet dayung asal Jambi yang dipercaya memperkuat Indonesia di ajang internasional.

Menurut Wawan, keberhasilan Ali menjadi bukti bahwa atlet dayung Jambi memiliki kemampuan untuk bersaing sekaligus membawa nama daerah dan bangsa di level internasional.

“Hari ini kami sangat bangga bahwa inilah putra-putri dayung dari Jambi yang membela Negara Republik Indonesia. Hari ini diwakili oleh Ali,” ujar Raden Wawan Setiawan.

Ia menyebut sejumlah atlet lainnya, termasuk Tiara Amasi Suki, juga menjadi bagian dari kekuatan dayung Jambi yang telah membawa nama daerah dan Indonesia di berbagai ajang.

Wawan berharap keberhasilan para atlet di tingkat internasional dapat menjadi tambahan motivasi bagi seluruh atlet dayung Jambi dalam menghadapi agenda olahraga nasional, khususnya menuju PON.

“Harapan kami ke depan, mudah-mudahan target PON akan kita upayakan dengan adanya apa yang telah diraih atlet kita di kancah dunia,” katanya.

Menurut Wawan, prestasi atlet Jambi di tingkat internasional merupakan modal penting bagi PODSI untuk terus memperkuat pembinaan, mencetak atlet-atlet potensial, sekaligus mempersiapkan kekuatan terbaik Jambi menghadapi kompetisi nasional.

Prestasi Ali Mardiansyah di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 pun menjadi catatan penting bagi olahraga Jambi. Dari tepian Sungai Batanghari hingga panggung olahraga Asia, perjuangan atlet dayung daerah tersebut kini berlanjut dengan target lebih besar: menembus kualifikasi Olimpiade dan kembali mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.