Panggung Demokrasi Ditengah Tembok Kekuasaan 

Oleh: M Farhan Abrar, SH, Aktivis Jambi

Panggung demokrasi kita tengah mempertontonkan ironi yang getir. Ketika Ketua BEM UGM, Tiyo, menyuarakan keresahan publik terhadap arah kekuasaan, ia tidak sedang berhadapan dengan tembok bisu kekuasaan secara langsung. Alih-alih mendapatkan ruang dialektika yang sehat, ia justru dihantam oleh sesama mahasiswa dan kelompok pemuda. Pemandangan ini bukan sekadar debat kusir, melainkan sebuah tragedi di mana mahasiswa—yang secara historis menjadi moral force—kini justru bertransformasi menjadi “satpam penjaga kenyamanan penguasa”

Sulit untuk menganggap serangan serentak dan sistematis terhadap Tiyo sebagai gerakan organik. Pola serangan yang masif dan narasi yang seragam memicu aroma yang sangat menyengat: aroma “pesanan”. Kuat dugaannya bahwa kelompok pemuda ini telah menjadi perpanjangan tangan dari instansi atau pihak tertentu yang merasa gerah. Praktik ini merupakan pengkhianatan terhadap prinsip dasar Negara Hukum (Rechtsstaat). Dalam negara hukum, kekuasaan tidak boleh berjalan absolut; ia harus dibatasi oleh hukum dan selalu berada di bawah pengawasan publik.

 

Secara konstitusional, serangan terhadap Tiyo adalah bentuk pelemahan fungsi checks and balances. Dalam sistem tata negara yang sehat, suara kritis mahasiswa adalah bagian dari mekanisme kontrol sosial yang sah. Upaya membungkam kritik melalui mobilisasi massa bayaran adalah tindakan antidemokrasi yang mencederai prinsip kedaulatan rakyat.

Rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dan mahasiswa hanyalah penyambung lidah dari kedaulatan tersebut. Ketika oknum mahasiswa menyerang sesama demi agenda elit, mereka secara tidak langsung sedang merusak prinsip partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation) dalam pembentukan kebijakan negara.

 

Lebih jauh, tindakan ini melanggar esensi prinsip akuntabilitas dan transparansi pemerintah. Instansi yang menggunakan “tangan kotor” untuk membungkam oposisi menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki basis legitimasi yang kuat atas kebijakan yang diambilnya. Mereka takut pada pengujian hukum dan uji publik, sehingga memilih jalan pintas untuk membungkam nalar kritis.

 

Namun, di tengah gempuran narasi pesanan tersebut, muncul secercah harapan. Mahasiswa yang sadar dan elemen rakyat tidak tinggal diam. Mereka secara konsisten berdiri sebagai benteng pertahanan, menjaga Tiyo dari upaya kriminalisasi dan intrik kotor kelompok bayaran. Solidaritas rakyat ini adalah bukti bahwa semangat perlawanan terhadap ketidakadilan tidak bisa dibeli dengan janji karier atau kucuran dana. Rakyat sadar bahwa ketika suara kritis dibungkam, maka nasib kebijakan publik akan berada dalam cengkeraman elit tanpa pengawasan.

 

Kepada mereka yang gemar menyerang rekan sendiri demi kepentingan elit, ingatlah bahwa kekuasaan itu ada batasnya, namun catatan sejarah bersifat abadi. Menjadi pelindung kebijakan yang timpang hanya akan menempatkan kalian dalam barisan pion pragmatis yang menggadaikan masa depan bangsa demi kenyamanan sesaat.

 

Sudah saatnya kita membersihkan gerakan pemuda dari para penumpang gelap dan makelar politik. Bagi Tiyo dan kawan-kawan di BEM UGM, tetaplah menjadi jangkar kewarasan. Bagi rakyat dan mahasiswa yang tetap teguh menjaga barisan, teruslah mengawal setiap langkah perjuangan ini. Kritik harus tetap bergulir karena tanpa kendali publik, kekuasaan akan melaju tanpa rem menuju jurang otoritarianisme. Berhentilah menjadi humas informal bagi mereka yang anti-kritik. Jika status mahasiswa hanya digunakan untuk mengamankan proyek atau agenda elit, maka sekat intelektual kalian sebenarnya telah runtuh. Kembalilah ke khittah: berdiri bersama rakyat mengawal keadilan, bukan menjadi tameng bagi mereka yang takut pada kebenaran.

Ini adalah penghinaan terhadap nalar publik. Memanfaatkan status mahasiswa dan pemuda atau golongan sebagai tameng untuk mengamankan proyek atau agenda elit bukanlah bentuk loyalitas politik, melainkan pengkhianatan terhadap idealisme pergerakan. Rakyat hari ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana mahasiswa atau pemuda yang bergerak atas dasar keresahan nurani, dan mana yang sekadar menjadi “humas bayaran” bagi mereka yang takut pada kebenaran.

[19/6 15.23] +62 822-8857-8167: di buat oleh M.FARHAN ABRAR,S.H. aktivis Jambi