JAMBI.PILARDAERAH.COM – Di tengah geliat ekonomi kreatif nasional, kisah inspiratif datang dari Jambi. Ibu Ruslaini Fadli, seorang pembatik sekaligus anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0415/Koorcab Rem 042 PD XX/Tuanku Imam Bonjol, berhasil mengubah hobi membatik menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Berbekal ketekunan dan kreativitas, Ruslaini mengembangkan batik tulis khas Jambi menjadi produk unggulan daerah yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi tinggi. Usaha yang ia jalankan kini menjadi bagian dari sektor UMKM yang turut menggerakkan industri kerajinan rumah tangga di Kota Jambi.
Dalam proses produksinya, Ruslaini tetap mempertahankan teknik tradisional. Batik tulis yang dihasilkan dikerjakan secara manual, mulai dari menggambar motif, mencanting menggunakan malam panas, hingga proses pewarnaan alami dari bahan seperti daun-daunan, kulit manggis, kulit jengkol, dan kayu sepang. Setelah itu, kain dijemur, direbus untuk menghilangkan lilin, lalu dijemur kembali hingga menghasilkan warna yang kuat dan khas.
Selain batik tulis, ia juga memproduksi batik cap untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih luas. Meski menggunakan teknik cap, proses pewarnaan tetap dilakukan dengan standar yang sama untuk menjaga kualitas.
Batik Jambi sendiri memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya warna yang tidak mudah luntur, tekstur kain yang lebih halus dan luwes, serta ragam motif yang kaya akan nilai filosofi. Setiap desain mengangkat kekayaan flora dan fauna endemik Jambi, menjadikannya unik dibandingkan batik dari daerah lain.
Beragam motif yang dikembangkan Ruslaini antara lain Durian Pecah yang melambangkan keterbukaan, Angso Duo sebagai simbol kerukunan, hingga Batanghari yang merepresentasikan aliran kehidupan masyarakat Jambi. Motif lain seperti Tampuk Manggis, Kapal Sanggat, dan Kuau Berhias juga sarat makna moral dan kearifan lokal.
Dalam hal pemasaran, Ruslaini memanfaatkan berbagai saluran, mulai dari penjualan langsung di rumah hingga distribusi melalui sentra batik Selaras Pinang Masak di Kota Jambi. Ia juga aktif mempromosikan produknya melalui media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Awalnya hanya hobi, tapi dengan konsistensi dan terus belajar, sekarang bisa menjadi sumber penghasilan,” ujarnya.
Keberhasilan Ruslaini menjadi contoh nyata bagaimana hobi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Ia menekankan pentingnya menentukan target pasar, meningkatkan kualitas produk, serta memanfaatkan teknologi digital untuk promosi.
Kisah ini sekaligus mempertegas peran UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Di tengah persaingan industri kreatif, inovasi yang berpadu dengan kearifan lokal menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang.
Dengan semangat tersebut, batik Jambi diharapkan semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.












