JAMBI.PILARDAERAH.COM – Ekonom nasional Usman Ermulan menegaskan pentingnya langkah cepat dan konkret Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dalam mengoptimalkan Pelabuhan Muara Sabak sebagai pusat ekspor utama.
Pasalnya, saat ini Pelabuhan Talang Duku hanya mampu menampung sekitar 42 persen ekspor Jambi, sementara 58 persen lainnya justru mengalir ke pelabuhan luar daerah seperti Tanjung Api-Api (Sumatera Selatan), Teluk Bayur (Sumatera Barat), dan Bengkulu.
Menurut Usman, kondisi tersebut tidak hanya merugikan dari sisi efisiensi logistik, tetapi juga menyebabkan potensi devisa Jambi tidak tercatat optimal dalam sistem keuangan nasional. Bahkan, ia memperingatkan bahwa arus ekspor Jambi terancam semakin berkurang dengan segera beroperasinya Pelabuhan Painan di Sumatera Barat yang hanya berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari wilayah Kerinci, Sarolangun, dan Merangin.
“Kalau ini dibiarkan, Jambi hanya akan menjadi daerah produksi, sementara nilai tambah dan pencatatan devisanya justru dinikmati provinsi lain,” ujar Usman Ermulan belum lama ini.
Mantan Bupati Tanjung Jabung Barat dua periode itu mendorong PT Pelindo agar memperkuat kerja sama strategis dengan Pemerintah Provinsi Jambi guna memaksimalkan Pelabuhan Muara Sabak. Pelabuhan tersebut, kata Usman, sejatinya telah direncanakan sejak era Gubernur almarhum H. Abdurachman Sayoeti dan dibangun dengan dana APBN.
Saat ini, Pelabuhan Muara Sabak telah memiliki dermaga peti kemas berukuran 40 x 60 meter, dilengkapi alat berat pemuatan kontainer, serta mampu melayani kapal atau tongkang antar benua dengan kapasitas minimal 8.000 ton. Bahkan, pelabuhan ini sudah aktif melayani ekspor batu bara ke Cina dan India.
Usman menilai, jauh lebih rasional bagi Jambi untuk mengoptimalkan pelabuhan yang sudah ada dibanding harus menunggu pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung yang membutuhkan anggaran sangat besar. Ia mengungkapkan, hanya untuk membangun akses jalan layak menuju Ujung Jabung saja diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp1 triliun, sementara kondisi APBN nasional tengah menghadapi tekanan defisit.
“APBN tetap dibatasi agar defisit di bawah 3 persen PDB. Dengan kondisi APBD Provinsi Jambi yang terus menurun dari Rp5,5 triliun menjadi sekitar Rp3,8 triliun pada 2026, tentu Kemenkeu dan Bappenas akan bertanya, berapa kontribusi daerah,” jelas mantan anggota DPR RI tiga periode tersebut.
Sebagai solusi nyata, Ketua IKAL Lemhannas Jambi itu mengusulkan agar ekspor CPO dari Jambi yang berasal dari perkebunan sawit seluas sekitar 1,3 juta hektare dialihkan dari Pelabuhan Dumai (Riau) ke Pelabuhan Muara Sabak. Langkah ini dinilai akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah.
Selain devisa tercatat atas nama Provinsi Jambi, biaya angkut CPO juga dapat ditekan signifikan. Saat ini, ongkos angkut dari Talang Duku ke Dumai mencapai sekitar Rp400 per kilogram, sementara jika melalui Muara Sabak hanya berkisar Rp100 per kilogram. Selisih biaya ini diyakini dapat meningkatkan keuntungan petani sawit.
“Dengan biaya angkut yang lebih efisien, harga TBS di tingkat petani yang saat ini sekitar Rp3.300 per kilogram berpotensi naik. Ini langsung menyentuh ekonomi rakyat,” tegas Usman.
Tak hanya itu, optimalisasi Pelabuhan Muara Sabak juga diyakini mampu menyerap tenaga kerja lebih besar, menggerakkan perputaran uang di daerah, serta membuka jalur ekspor baru bagi produk UMKM Jambi. Kontribusi ini sekaligus akan memperkuat cadangan devisa nasional yang pada akhir Desember lalu tercatat sekitar US$138 miliar.
Usman juga mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada Pelabuhan Talang Duku berisiko besar, mengingat pangsa pasarnya akan terus menyusut akibat persaingan pelabuhan baru di Sumatera Barat dan rencana pembangunan pelabuhan di wilayah Muara Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
“Pertanyaannya sederhana, apakah Jambi akan terus menunggu ‘hujan turun dari langit’ berupa bantuan APBN, atau berani mengambil langkah konkret mengoptimalkan potensi yang sudah ada? Jawabannya ada pada komitmen dan keberanian para pemimpin daerah,” pungkas mantan Staf Khusus Menteri Bappenas itu.












