MUAROJAMBI.PILARDAERAH.COM — Akibat kekeringan ekstrim yang melanda Kabupaten Muarojambi, Jambi sekitar dua bulan ini, ratusan petani padi di kawasan Desa Kademangan, Jambi Luar Kota (Jaluko) menjerit.
Pasalnya, padi yang hampir panen tersebut terancam gagal panen tahun ini lantaran ratusan hektar persawahan mereka dilanda kekeringan.
Bahkan setiap persawahan mereka sudah terlihat tanahnya retak-retak lantaran sudah lama tidak mendapatkan pasokan air. Sedangkan tumbuhan padinya sudah menguning semua.
Tidak hanya itu, warga mengeluhkan kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap pengairan sawah masyarakat yang selama ini menjadi lumbung padi daerah.
“Harusnya pada bulan Agustus dan September ini kami sudah panen padi, lantaran kekeringan jadi padi kami terancam gagal panen,” ungkap Abdullah, salah seorang petani padi, Rabu (4/9/2024).
Menurutnya, sejak terjadi kekeringan karena musim kemarau, tanah persawahan kami memar-memar semua.
“Kalau bisa, kami minta adanya pengairan ke sawah masyarakat. Kedepannya ada bantuan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan persawahan,” ujarnya.
Salah seorang tokoh masyarakat Jambi, Usman Ermulan mengatakan, seharusnya sudah ada peran pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan di sawah penduduk.
“Harus ada peran dan upaya pemerintah. Jangan menyerah dengan keadaan alam, apa guna ada pemerintah,” tukasnya.
Menurutnya, pemerintah sudah berpikir pembuatan sumur bor ditengah hamparan sawah sehingga mempermudah pengairan sawah jika terjadi kekeringan.
“Lebih baik membuat sumur bor di pertengahan hamparan sawah daripada harus mengangkut mesin pompa air, belum lagi mengangkat selang yang panjangnya bisa ratusan meter,” imbuhnya.
Dia menambahkan, kalau pemerintah saat ini memberikan mesin pompa air untuk persawahan masyarakat yang kekeringan, itu jangka pendek.
“Jadi sudah baiknya adanya pembuatan sumur bor di pertengahan sawah. Setahu saya, sudah ada alat geo listrik untuk mencari titik air untuk mempermudah pembuatan sumur bor,” kata Usman.







Komentar