Oleh: Bahren Nurdin, Pengamat Sosial dan Kebijkan Publik
Saya yakin bahwa seluruh warga ingin kota ini bersih, rapi dan tertata dengan apik. Boleh jadi ini salah satu factor kebahagiaan warganya. Namun faktaya, kita tidak bisa menutup mata bahwa hari-hari terakhir ini dan di jam-jam tertentu kita melihat di beberapa tempat di Kota Jambi terjadi tumpukan sampah di sepanjang jalan. Paling tidak, banyak sampah yang tidak lagi tertampung di bak sampah yang disediakan pemerintah sehingga meluber hingga ke bahu jalan. Bagaimana sesungguhnya kita melihat persoalan sampah ini?
Persoalan sampah di Kota Jambi sejatinya tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah teknis semata. Ia bukan sekadar urusan truk pengangkut, tempat pembuangan sementara, atau jadwal angkut yang terlambat. Lebih dari itu, pengelolaan sampah menyangkut dua aspek fundamental yang saling berkaitan, yakni manajemen pengelolaan oleh pemerintah dan budaya masyarakat. Tanpa sinergi keduanya, persoalan sampah akan terus berulang dari masa ke masa. Ribut terus dan terus saling menyalahkan!
Dari sisi manajemen, pemerintah memiliki peran sentral dalam mengatur sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Mulai dari perencanaan, penyediaan infrastruktur, hingga penegakan regulasi.
Pengelolaan sampah yang baik menuntut data yang akurat tentang produksi sampah, sistem pengangkutan yang efisien, ketersediaan armada yang memadai, serta lokasi TPS yang tertata dan ramah lingkungan. Jika manajemen masih bertumpu pada pola lama “angkut dan buang”, maka masalah sampah hanya dipindahkan, bukan diselesaikan. Tanpa mengecilkan usaha yang sudah dilakukan selama ini, saya ingin megakatan agaknya pada poin ini pemerintah Kota Jambi masih harus bekerja lebih keras lagi!
Selain itu, regulasi yang ada harus dijalankan secara konsisten. Peraturan daerah tentang sampah tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi harus hadir dalam bentuk penegakan hukum yang adil dan edukatif.
Pemerintah juga perlu memberi insentif kepada masyarakat atau kawasan yang berhasil menjaga kebersihan lingkungannya. Manajemen yang rapi akan menciptakan kepercayaan publik, bahwa upaya menjaga kebersihan kota bukanlah kerja sia-sia.
Namun, manajemen yang baik tidak akan cukup tanpa perubahan budaya masyarakat.
Masih kuat anggapan bahwa sampah sepenuhnya adalah urusan pemerintah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, tidak memilah sampah dari rumah, serta rendahnya kepedulian terhadap lingkungan menunjukkan bahwa persoalan sampah juga merupakan persoalan mentalitas.
Kota yang bersih bukanlah kota yang paling banyak petugas kebersihannya, melainkan kota yang warganya memiliki kesadaran kolektif.
Budaya bersih harus dibangun melalui pendidikan sejak dini, keteladanan para pemimpin dan tokoh masyarakat, serta pelibatan aktif komunitas di tingkat RT dan RW. Bank sampah, gerakan lingkungan, dan partisipasi warga perlu dihidupkan terus menerus dan tidak boleh berhenti agar masyarakat merasa memiliki tanggung jawab bersama. Harus ada usaha kolektif untuk membangun kesedaran sehingga memiliki budaya bersih dengan kepedulian yang tinggi akan pengelolaan sampah bagi setiap anggota Masyarakat.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah yang berkelanjutan hanya akan terwujud ketika manajemen pemerintah yang tertata bertemu dengan budaya masyarakat yang peduli. Jika salah satunya berjalan sendiri, maka sampah akan tetap menjadi wajah buram kota. Kota Jambi yang bersih adalah hasil kerja bersama, bukan saling menyalahkan. Dengan cara ini pula kita akan bisa bahagia bersama. Semoga!






